Sabtu, 07 Desember 2013

puisi

Hitam , Pekat
Sebuk itu menyatu dengan butiran-butiran kristal bewarna putih
terlarut dalam air panas yang mengguyurnya
menemaniku dalam indahnya pagi
bersama dua lembar roti berisikan coklat keju dan bertabur ribuan mesis diatasnya
kopi itu memberiku semangat
mengawali segala kegiatanku
dan aku teringat
ada yang lain
yang membuatku mencintai kopi itu
K o p i    atau    C o k l a t


Sore itu sore yang tak seperti biasanya. Jarum jam serasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Matahari seakan ingin cepat-cepat menenggelamkan dirinya. Sore itu tak terasa menjadi senja. Remy masih tetap duduk termenung memandang sahabatnya Moki yang sedang menyeduh coklat panas yang dipesannya itu.
“ Kenapa kamu diam? Kamu tidak memesan apa-apa?” Tanya Moki heran. Remy tetap diam dan masih terus memandang Moki. Buku menu dihadapannya tak tersentuh oleh Remy.
“Aku hanya bingung, apakah aku harus memesan kopi ataukah coklat?” Satu kalimat terucap dari mulut Remy. Sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal. Namun itulah pertanyaan yang sering muncul saat di cafe bersama Moki.
Tanpa basa-basi, Moki lalu memanggil pelayan dan memsankannya coklat panas yang seperti dia pesan. Moki hanya tidak ingin mnambah suasana yang aneh sore itu. Ya, sore itu adalah sore yang paling aneh. Mereka berdua harus menikmatinya dengan penuh rasa tidak bahagia.
“Aku hanya pergi selama tiga bulan. Setelah diklat itu selesai aku janji akan kembali lagi..!!” Moki memulai pembicaraan sore itu. Remy tak kuasa membendung kesedihannya. Namun dia berusaha untuk tidak menangis karena dia sadar bahwa dia adalah pria. Remy hanya tak ingin kehilangan Moki. Dia berfikir jika tidak ada Moki, tak akan ada lagi malam minggu yang rutin meminum secangkir kopi atau coklat panas. Tak akan ada lagi canda tawa yang menghiasinya. Dan tak ada lagi cerita atau curahan hati sahabatnya itu.
Senja menjadi malam. Malam yang kelam. Malam tanpa bulan dan bintang. Sepi, sunyi, dan dingin. Mereka hanya terdiam malam itu. Tak ada topik pembicaraan, atau bahkan guarauan seperti malam-malam minggu biasanya. Mereka harus berpisah esok pagi.
Keesokan harinya, Moki sudah tak ada lagi di Jombang. Kini, Moki menjalani hari-harinya di Bandung. Remy mencoba mencari kegiatan lain di hari itu. Dia mencoba untuk menjalani hari-harinya tanpa Moki. Mungkin dia harus mengikuti berbagai komunitas di daerahnya untuk memperoleh banyak teman. Dia mencoba browsing di internet untuk mencari komunitas-komunitas yang ada di Jombang.
Setelah berjam-jam lamanya dia browsing, akhirnya Remy menemukan sebuah komunitas aneh namun menarik baginya. “KoPI” namanya. Itu merupakan singkatan dari “Komunitas Pecinta Seni”. Suatu komunitas yang cocok untuk mereka-mereka yang sangat suka dengan dengan seni. Bagi Remy komunits itu adalah komunitas yang tepat untuknya karena dia senang dengan seni. Terutama pada seni desain. Dia begitu pandai mendesain berbagai logo ataupun icon. Menurutnya, Seni desain juga tak kalah dengan seni-seni lainnya. Dia ingin menunjukkan bakat dan kemampuannya di komunitas itu.
Sabtu malam Remy datang untuk kumpul di komunitas “KoPI” itu. Memang sangat sedikit anggotanya, namun itu tidak menyurutkan kemauannya untuk bergabung ke dalam komunitas itu.
Komunitas itu begitu sepi. Hanya sepuluh orang yang tergabung dalam komunitas itu. Segala kegiatannya begitu sangat membosankan. Mereka hanya saling bercerita tentang pengalaman mereka, menunjukan hasil karya seni mereka dan bernyanyi bersama. Sungguh kegiatan yang tak singkron dengan namanya. Tak ada unsur seni di situ.
Remy memang sedikit kecewa karena telah tergabung dalam komunitas aneh itu. Dia hanya bisa duduk dan diam memperhatikan teman-teman satu komunitasnya yang saling unjuk kebolehan di bidang seni. Namun satu hal yang membuatnya tetap bertahan pada komunitas itu. Dia menemukan teman yang menyenangkan di situ.
Ana, Erik, dan Ivo adalah teman komunitasnya yang paling ramah diantara lainnya. Mereka kini bahkan sudah menjadi sahabat baru bagi Remy. Setiap malam minggu Remy melauinya bersama mereka, bersama kopi, bersama hasil seni yang ia miliki. Remy bahkan tak menyadari bahwa kini dia mampu melewati setiap malam minggu tanpa Moki. Dia merasa ketiga sahabtnya itu telah mampu mengobati rasa kesepiannya.
Sabtu malam setelah pertemuan itu selesai, hujan turun begitu derasnya. Saat itu hanya ada Remy dan Ivo di tempat itu. Ana, Erik, dan yang lainnya sudah pulang sebelum hujan itu datang. Memang Remy dan Ivo pulang agak terlambat karena mereka harus membereskan ruangan. Kini mereka berdua terjebak pada satu tempat yang sama. Hening, sepi, sunyi. Tak ada obrolan yang terucap dari bibir mereka. Mereka yang seharusnya saling bergurau dan bercerita, tiba-tiba saling terdiam malam itu.
“Hujan kapan berhenti...??” Terlontar satu pertanyaan dari mulut Ivo.
“Hanya waktu yang bisa menjawab..!!” Remy hanya menjawab dengan singkat dan apa adanya. “Aku ingin bertanya, sejak kapan komunitas ini berdiri ?”
“Sudah sekitar dua tahun yang lalu.” Ivo memalingkan wajahnya dari Remy. “Tapi, anggotanya masih sedikit..!!”
“Kalau boleh jujur, komunitas ini adalah komunitas yang membosankan. Tidak ada yang lebih dari komunitas ini, tidak ada yang berkesan dari komunitas ini, semuanya hanya itu-itu aja.” Kalimat yang sungguh menyayat hati itu terlontar dari mulut Remy. Sebenarnya Remy tahu kalau ini pasti akan menyakitkan bagi Ivo sebagai ketua dan pendiri komunitas itu. Namin, Remy hanya ingin jujur agar Ivo tahu segala kekurangan dari komunitasnya itu dan mencoba untuk melakukan perubahan agar menjadi lebih baik.
Ivo tersentak saat mendengar pernyataan Remy itu. Sejenak Ivo merenung mencerna semua kata-kata dari Remy. Baru kali ini ada seseorang yang berani mengkritiknya.
“ Komunitas ini hanya untuk mereka yang tidak mampu menunjukkan bakat yang ia miliki.” Kata Ivo dengan sangat lirih.
“Semua hasil karya mereka itu berpotensi. Seharusnya mereka menunjukkan hasil karya mereka pada semua orang,  bukan hanya dalam satu komunitas. Kamu sebagai ketuanya, harus mampu untuk menunjukkan bakat mereka pada semua orang !” Remy memberi semua masukan untuk Ivo.
“Remy..!!” Ivo memandang wajah Remy. “Bantu aku untuk mewujudkannya..!” Remy hanya mengangguk dan tersenyum. Hujan pun  mulai reda dan mereka berdua pergi dari tempat itu.
Tak terasa tiga bulan telah dilalui Remy. Saat itu Moki telah kembali ke Jombang. Remy sungguh merasa bahagia. Dia telah menyiapkan semuanya untuk menyambut Moki. Sebuah pesta kecil-kecilan telah dia siapkan untuk malam ini. Pesta itu bukan hanya untuk dirinya dan Moki saja. Ana, Erik, dan Ivo sahabatnya itu juga dimintai untuk menghadiri pesta itu.
Sungguh pesta yang sangat sederhana. Hanya ada beberapa makanan ringan dan menuman yang telah disiapkan Remy. Lampu-lampu kecil yang lucu itu menghiasi balkon rumah Remy. Remy hanya mengenakan busana yang sangat biasa. Kaos oblong dan celana jins tiga per empat itu yang selalu ia kaenakan. Moki juga datang dengan penampilan yang biasa. Begitu pula dengan Ana, Erik, dan Ivo.
Malam itu Remy ingin mengenalkan Moki pada tiga sahabat barunya itu.
“ Kamu Mokirana Putri ya? Si penulis sastra yang terkenal di twitter itu kan??” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Ivo. Remy begitu kaget. Ternyata Ivo sudah mengenal Moki. Bahkan Ivo juga sering ngobrol dengan Moki melalui Twitter.
Malam itu kebetulan Ivo ingin minta bantuan pada Moki. Moki diminta untuk membantunya dalam mewujudkan sebuah pameran seni yang diadakan bersama komunitasnya itu. Dengan senang hati Moki membantu mereka. Mulai dari merancang ssegala sesuatu yang dibutuhkan, hingga penentuan tema yang akan ditampilkan.
Remy juga tak tinggal diam. Dia turut berperan dalam mendesain latar tempat pameran seni itu. Selain itu juga dia mempromosikannya pada semua orang baik lewat brosur, atah bahkan media sosial.
Tak sia-sia akhirnya kegiatan itu berjalan dengan sempurna. Ivo, Erik, Ana, dan para anggota dari komunitas itu turut bahagia. Anggota komunitas itu semakin lama semakin bertambah dan mereka semakin percaya diri dalam berkarya. Ivo turut berterima kasih dengan Moki dan Remy yang selama ini telah membantunya.
Namun, setelah semua itu telah diwujudkan, Remy bahkan harus terpaksa pergi ke Bandung untuk melanjutkan studynya. Kali ini dia meninggalkan semua sahabatnya. Dan yang paling berat adalah dia harus meninggalkan Ivo juga Moki. Entah mengapa perasaanya kepada Ivo menjadi perasaan yang luar biasa. Ivo pun juga merasakan demikian. Semakin hari Ivo semakin merasa nyaman saat ada di dekat Remy. Dan saat Remy harus pergi ke Bandung, dia benar-benar merasa kehilangan. Apakah dia mulai mencintai Remy.? Lalu baagaimana dengan Moki? Hanya Remy dan Tuhan yang mampu menentukan.
Remy mencintai Moki. Ya. Remy mencintai Moki dari dulu. Akan tetapi hingga sekarang dia tidak mampu untuk mengungkapannya pada Moki. Perasaannya pada Ivo hanyalah sebagai sahabat. Remy berjanji sepulangnya dari Bandung dia akan mengungkapakan perasaanya pada Moki. Akan tetapi disisi lain dia juga sayang dengan Ivo.
Saat-saat terakhir sebelum ia berangkat ke Bandung, dia merasa gelisah. Yang seharusnya adalah di mengungkapkan perasaanya sebelum dia pergi ke Bandung. Namun dia sendiri juga bingung harus memilih siapa? Dia harus memilih Moki  sahabat yang dicintainya dari dulu, ataukah Ivo sahabat barunya yang mencintainya.
Namun hidup adalah pilihan. Dan bahkan menurut buku yang pernah dia baca, Pilihan terbaik adalah menerima. Apakah itu pertanda bahwa dia harus menerima Ivo untuk menjadi kekasihnya dibandingkan dia harus mengejar Moki yang jelas-jelas hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Malam itu entah mengapa Ivo mengatakan bahawa dia mencintai Remy. Entah apa yang membuat dirinya berani untuk mengatakan hal itu pada Remy. Malam itu, sebelum Remy pergi, dia harus segera memilih.
“Maafkan aku Ivo..!! Aku hanya mengaggapmu sahabat, tak lebih.” Remy terpaksa harus mengucapkan hal itu pada Remy.
 Ivo hanya tersenyum dan berkata, “Aku tak memaksa. Karena cinta tidak untuk dipaksa. Kalau pun perasaan itu bisa dipilih, aku akan memilih untuk tidak mencintaimu. Namun aku juga tak menyesal jika aku terlanjur mencintaimu. Aku tahu kamu pun merasakan hal yang sama sepertiku. Aku tahu kamu mencintai Moki. Aku juga tahu Moki hanya menganggapmu sebagai sahabat. Namun, seenggaknya kamu harus mengungkapkan perasaanmu padanya. Kamu harus siap dengan apa yang terjadi nantinya. Aku mohon Remmy...!! Hidup itu terkadang harus memilih. Dan terkadang dipilihkan. Tetapi kali ini kamu harus memilih..!! jika kau tak memilihku malam ini, aku harap kamu memilih untu mengungkapkan perasaanmu pada Moki.” Ivo berkata banyak malam itu. Remy hanya terdiam dan merenung. Sesungguhnya apa yang dikatakan  Ivo itu memang benar. Jika dia tak memilih Ivo, dia harus berani mengungkapakn perasaanya dengan Moki. Ya. Dia pun terdiam malam itu. Hanya berdua hening bersama Ivo.


The End